Hakim Ketua Firman Khadafi Tjindarbumi membacakan vonis hukuman pelaku pencurian toko kosmetik IS dan IC di ruang sidang didampingi hakim anggota Irwansyah dan Liena.

SOROTLENSA, DUMAI - Berdasarkan hasil putusan Hakim Ketua Pengadilan Negeri (PN) Kota Dumai, Firman Khadafi Tjindarbumi pada Kamis (27/9/18) lalu terkait dugaan kasus pencurian yang menimpa korban, Tisnawati selaku pelaku usaha kosmetik dirasa tidak adil bagi dirinya.

Pasalnya hukuman yang dijatuhkan oleh Hakim Pratama Utama itu terlalu ringan terhadap pelaku pencurian IS dan IC yang telah membobol hampir keseluruhan dagangannya di Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur di samping gedung Bank Central Asia miliknya yang ditaksir dengan nilai mencapai 124 juta Rupiah, uang tunai sejumlah 9 juta Rupiah di dalam tiga tempat penyimpanan uang, satu unit laptop dan satu unit gadget pada Minggu, 6 Mei 2018 lalu.

Putusan yang dibacakan Hakim Ketua Firman, bersama hakim anggota Irwansyah dan Liena diketahui tersangka yang dikenakan pasal 363 kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) pencurian dengan pemberatan ayat 1 butir 3, 4 dan 5 hanya dijatuhi hukuman kurungan penjara satu tahun enam bulan dipotong masa tahanan selama empat bulan.

Dimana sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Dumai, Roslina yang menangani perkaranya telah menuntut tersangka dengan ancaman hukuman penjara selama dua tahun.

Selama sidang berjalan, sejak pelaku ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian, hanya sekali ia diberi tahu oleh jaksa untuk mengikuti jalannya sidang pertama, guna dimintai keterangan oleh pihak hakim serta dua saksi lainnya yakni sang suami, Ari dan karyawatinya.

Pada sidang pertama, korban merasa keberatan karena BB yang disebutkan hakim tidak sesuai dengan kenyataannya. Ketika pihak korban mencoba menjelaskan, namun sang hakim menjawab untuk diajukan pada sidang selanjutnya.

"Nah sejak saat itu, kita tidak pernah tahu lagi, kapan sidang itu dilaksanakan sampai pada hari ini (Rabu) tiba-tiba kita mendapat kabar dari jaksa (Roslina) melalui obrolan di telepon kalau sudah masuk putusan dengan kurungan dua tahun,"ujar Tisna kepada Sorotlensa.com, Rabu (26/9/18) sore lalu di kediamannya, yang kala itu diamini sama suami.

"Itupun kita dulu yang menelpon mengenai perkembangan sidang. Ternyata kita dapat kabar seperti ini,"ungkap Ari kesal.

Di lain sisi, mereka pun tak menampik kalau sebelumnya, mereka pernah dihubungi jaksa kali kedua, untuk mengambil BB sebelum sidang pertama.

"Namun setelah kita melihat barang kita ternyata tidak sesuai dengan apa yang menjadi kerugian kita ditambah lagi pihak tersangka tidak mengakui kalau mereka mencuri dengan jumlah yang  banyak,"terang pemilik usaha Tia HN kosmetik ini memaparkan.

Belum lagi, ketika pihaknya menanyakan kepada jaksa terkait apa motiv dibalik pelaku mengambil produk usahanya bukan barang-barang berharga lainnya seperti motor, ban mobil, barang-barang elektronik.

"Kenapa, apa motiv nya...? Namun ketika itu ditanyakan ke jaksa, jaksa tidak menjawab,"kata dia.

Ia juga sempat menilai kejanggalan pihak jaksa dan pengadilan yang menyidangkan tersangka di ruang sidang anak, dimana secara hukum dan prosedural, pelaksanaan sidang secara otomatis tertutup.

"Kenapa harus di situ (ruang sidang anak), apa alasannya, apa karena kami tidak boleh mengetahui jalannya persidangan,"ujar Tisna lagi.

"Nah itu yang terus menjadi pertanyaan kami,"kata dia sembari mengakui sejak saat itu sang jaksa tidak dapat dihubungi kembali.

Kedua pelaku IS dan IC menandatangani vonis putusan Hakim Ketua Firman Khadafi Tjindarbumi

Begini Jawaban Jaksa dan Hakim

Ketika hal ini dikonfirmasikan media kepada pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Dumai, melalui Kepala Seksi (Kasie) Pidana Umum (Pidum), Yunus Zega mengenai curahan hati seorang Tia, Zega cukup kooperatif, Kamis (27/9/18) lalu.

Meski pun diawal media ini sempat disambut dengan raut wajah tidak bersahabat, namun Zega tetap terbuka menjelaskannya.

Ia sempat bertutur jika perkara pencurian yang dialami korban baru diketahuinya saat ini, ia beralasan karena posisi yang ditempatinya sekarang baru dijabatnya sebulan belakangan ini.

Untuk selanjutnya akan dipelajarinya terlebih dahulu. Ia berjanji bila perlu akan panggil jaksa yang menangani kasus korban.

Mengenai vonis ancaman hukuman dua tahun, ia menjawab jika pasal yang didakwa kepada tersangka memang tercantum di pasal 363 KUHP ayat 1, dengan ancaman paling lama kurungan sembilan tahun.

"Namun butir ke berapanya kan berdasarkan bukti yang kita terima dari polisi. Termasuk dengan tuntutan yang kita ajukan juga berdasarkan acuan BB yang ada, tergantung bagaimana kronologinya,"papar Zega tersenyum.

Berbicara mengenai tidak puas, semua korban pasti berujar seperti itu. "Dan itu lumrah apalagi korban punya bukti. Seharusnya selaku pihak yang berwenang, tim penyidik terlebih dahulu mempelajari delik hukum yang ada,"sebut pria berdarah Nias itu.

Selanjutnya terkait pemanggilan yang dilakukan cuma sekali oleh jaksa.

"Memang sudah ada ketentuannya yakni pasal 1 butir 2 KUHP untuk upaya mencari bukti guna membuat terang suatu perkara. Jadi tidak ada ketentuan kita  untuk memanggil kembali, silahkan pihak korban mengikuti jalannya sidang tapi gak ada kewajiban  kita memanggil kembali,"ujar dia.

Sebagai informasi tambahan, diketahui Jaksa Roslina menjalani cuti persalinan, sehingga dikuasakan kepada jaksa pengganti, Heriyanto.

Di lain kesempatan, JPU pengganti Heriyanto usai sidang putusan hakim mengungkapkan jika keputusan tersebut masih bisa berubah.

"Karena itu belum final, kita bisa meninjau  kembali putusan hakim yang diberi tenggat waktu tujuh sampai 14 hari,"sebutnya.

Berbicara tuntutan, ia tidak mengetahui hal itu, karena ia hanya bertindak sebagai jaksa pengganti.

"Kalau masalah tuntutan langsung aja ke pihak yang bersangkutan (Roslina) karena kita hanya meneruskan,"tutup dia.

Di kesempatan dan di hari yang sama di gedung PN Dumai, Jalan Bukit Datuk Lama, kepada Sorotlensa.com, Hakim Ketua Firman Khadafi Tjindarbumi, mengatakan vonis hukuman yang dijatuhi hanya 1,5 tahun, hal itu mengacu dengan tuntutan jaksa.

"Jika pihak korban merasa keberatan dengan vonis yang dijatuhkan, pihak korban silahkan mengajukan perdata atas kerugian yang mereka terima. Apalagi kerugian mencapai ratusan juta Rupiah, jadi silahkan saja,"jelas Firman.

Mengenai jalannya persidangan yang digelar di ruang sidang tahanan anak, tidak ada yang dipermasalahkan sebenarnya.

"Tidak ada aturan yang menetapkan kasus digelar diwajibkan di ruang sidang utama, biasa dan anak. Itu karena yang bersidang  lumayan banyak, sementara kita dikejar waktu, makanya kita gunakan ruang sidang yang ada. Dan selama ini cukup terbuka kok sidang atas terdakwa IS dan IC ini,"tutupnya.

Korban pencurian, Tisnawati bersama suami, Ari di toko Kosmetik HN yang mengalami kerugian akibat pencurian terjadi di toko dan kediamannya.

Kronologi Pencurian

Sebelumnya Tia sapaan akrabnya kepada media ini sempat menjelaskan kronologi pencurian yang terjadi di kediamannya. Bermula dari putrinya mengalami demam tinggi yang divonis dokter kena gejala demam berdarah dengeu (DBD) pada Rabu, 2 Mei 2018 lalu.

Keesokan harinya, Kamis, 3 Mei 2018, ia coba mengabari kepada customer (pelanggan) melalui akun sosmed Facebook nya dengan membuat status kalau aktivitas dagangannya untuk sementara tutup dikarenakan putrinya dirawat inap.

Ia merasa melalui statusnya itu, pemicu dari pencurian yang terjadi di toko sekaligus kediamannya.

Diakuinya, padahal ia sudah beberapa kali bolak - balik ke rumah untuk memastikan rumah dalam keadaan baik-baik saja.

Rupanya untung tak dapat diraih, malang pun tak dapat ditolak begitu pepatah yang tepat menimpa Tia dan Ari, naas pun menghampiri, pada Minggu (6/5/18) kala itu. Diperkirakan sekiranya pukul 01.00 WIB dini hari terjadi lah pembobolan itu. Pencurian dilakukan tersangka dengan memasuki bagian belakang rumah.

Kerugian ratusan juta pun dirasakannya. Menurutnya, selain ia baru saja belanja, apalagi waktu semakin mendekati puasa dan lebaran.

"Jujur aja ya kak, gimana ngenesnya perasaan kami waktu itu, tidak karu-karuan, anak sakit belum lagi kita masalah kita kemalingan ini, ditambah lagi dengan urusan sama pihak polisi. Hanya Allah yang tau,"ungkapnya.

"Jadi tentu saja dengan tuntutan dua tahun itu, kita gak puas. Kita menginginkan adanya penambahan hukuman. Kalau sekadar motor, tv atau barang lainnya di curi kita ikhlas. Tapi ini barang dagangan kita,"sebutnya menutup.(tim)



Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.