Wali Kota Dumai, Zulkifli As saat membacakan pidato sambutan pada upacara Hari Sumpah Pemuda ke 90.(Foto Humas)

Pendewasaan diri adalah bagaimana kita menyikapi suatu persoalan  dengan positif, hal tersebut biasanya ditandai dengan perubahan pola pikir serta mengendalikan emosi, yang harus melalui tahapan kehidupan seperti cobaan, musibah dan penderitaan.

Seperti yang baru baru ini terjadi pada upacara memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda di Kota Dumai.

Sekelompok pemuda yang tergabung dalam organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) melakukan aksi walk out pada saat upacara berlangsung.

Peristiwa yang jarang terjadi ini tentu saja membuat kaget seluruh peserta upcara dan bertanya dalam hati apa gerangan membuat generasi muda tersebut meninggalkan barisan upacara?

Persoalan tidak disebutnya organisasi KNPI dalam sambutan yang dibacakan oleh Wali Kota Dumai dan persoalan tempat duduk undangan  yang tidak tertera mebuat para kader muda calon pemimpin ini merasa tersinggung dan lansung secara kompak meninggalkan barisan upacara.

Jika peristiwa ini dilihat dari sudut emosional demi menjaga marwah organisasi tentu saja kita merasa bangga, beginilah seharusnya sikap jiwa anak muda dalam membela bendera organisasi tempat mereka berkumpul.

Hal ini juga dilakukan oleh kaum muda jauh sebelum kita, dengan semangat kaum muda pada saat itu mereka mendeklarsikan sumpah pemuda sebagai alat atau pondasi dalam meraih kemerdekaan.

Namun, jika disikapi dari sudut etika pada sebuah upacara kenegaraan tentu hal ini sangat disesalkan banyak pihak.

Pertanyaannya mengapa hal ini bisa terjadi?

Salah paham antara Pemko Dumai dengan KNPI  menjadi hal yang mendasar sehingga peristiwa sedikit memalukan ini terjadi.

Peran Kabag Humas Pemko Dumai, Riski Kurniawan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, ini terkait dengan isi pidato yang disampaikan walikota tidak menyebutkan KNPI dalam kata sambutannya.

Ternyata jika kita teliti lebih dalam sambutan yang disampaikan walikota adalah merupakan sambutan tertulis dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Repeblik Indonesia.

Hal ini menjadi standar baku dalam setiap upacara Sumpah Pemuda dan kepala daerah hanya membacakan saja.

Kealpaan Riski Kurniawan melakukan komunikasi jelang upacara dilaksanakan menyebakan timbulnya kesalah fahaman ini.

Tentu saja sangat tidak adil rasanya jika penulis hanya mengkritisi seorang Riski Kurniawan selaku Kabag Humas Pemko Dumai.

Banyaknya tugas yang dipikulnya wajar jika hal yang dianggap sepele terlupakan sehingga menimbulkan hal yang memalukan.

Kedewasaan pegurus KNPI dalam menyikapi suatu hal yang terjadi dilapangan tentu sangat kita harapkan agar kejadian yang sama tak akan terulang kembali.

Terlepas siapa yang salah dalam hal ini, media ini berpendapat bahwa hal tersebut merupakan sebuah transisi cara berfikir kaum muda dalam menghadapi setiap persoalan.

Penulis : Khallila Dafri, Pemimpin Redaksi

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.