Gemal Panggabean, salah satu gitaris band asal Pekanbaru

SOROTLENSA, PEKANBARU - Komunitas musik keras bawah tanah atau biasa disebut underground dari Pekanbaru menolak disahkannya rancangan undang-undang (RUU) Permusikan yang tengah disusun di DPR RI.

RUU tersebut dinilai bakal menimbulkan diskriminasi terhadap genre atau aliran musik, karena RUU permusikan hanya menghambat musisi amatiran, dan komunitas-komunitas kecil dan hanya berpihak kepada industri musik besar. 

Jojo, Dewan Sepuh Komunitas Grief Blozom salah satu Komunitas Band Metal Pekanbaru mengatakan, dengan adanya RUU itu, komunitas underground akan sulit membuat pergelaran konser metal atau Gigs. Padahal, hanya pergelaran itu yang mampu menghidupkan musik metal di Pekanbaru.

"Kita menolak RUU permusikan yang disahkan oleh pemerintah, Selama ini kami mandiri dan membesarkan band serta industri musik secara swadaya, Hanya saja alirannya metal atau rock," terang Jojo.

Jojo beranggapan bahwa musik yang selama ini ia dan teman sejawatnya geluti tidak pernah merepotkan siapapun Selama ini.

"Kami tidak pernah merepotkan Kami tidak pernah membuat kerusuhan walaupun aliran musik kami sedikit keras tapi kami selalu mengedepankan perdamaian," tambahnya Senin (4/2/2019) pada Sorotlensa.com.

Jojo kembali mengatakan, selama ini, pemerintah tidak pernah memfasilitasi ataupun turut membantu hal apapun tentang kesejahteraan musisi amatiran, terutama musisi beraliran Rock.

"Jadi, pemerintah juga tidak perlu membatasi ruang gerak kita," kata Vokalis Band D.o.V asal Pekanbaru itu. 

Disisi lain, Gemal Panggabean yang merupakan perwakilan dari Gitaris Metal dan Rock Pekanbaru mengatakan bahwa RUU tersebut membatasi kreatifitas dan aspirasi dari musisi sebab menurutnya, jika RUU ini disahkan, maka kegiatan musik di kota-kota luar Jakarta dan Jawa akan sepi.

"Kalau kegiatan musik dibatasi, kafe dan industri musik seperti rental band, panggung, lighting dan lain-lain juga akan sepi Ini juga menyerang perekonomian, Seharusnya DPR berfikir panjang," beber Gemal

Menurut Gemal, pemerintah seharusnya bisa menghadirkan infrastruktur atau wadah yang dibutuhkan oleh musisi-musisi daerah di luar Jawa. Sehingga, musisi-musisi bisa sukses dari manapun dia berasal tanpa harus ke Jakarta.

"Di Pekanbaru dan kota-kota lain itu bayaran musisi amatiran kecil, malah banyak yang gratisan.

Di Jakarta, banyak yang bisa kaya dari musik, meski hanya main di kafe. Padahal, soal kemampuan dan kualitas bermusik anak daerah tidak kalah dengan Jakarta.

Seharusnya pemerintah memikirkan solusi tentang ini, menyediakan panggung untuk kesejahteraan musisi daerah, Bukan membatasinya," pungkas Gemal.



Editor : Redaksi

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.