Sumber fhoto : Google
DUMAI - mandi bungo dengan mandi kembang, dua kemandian yang berdikari pada maksud suatu peristiwa kita kawan. mek, wes!! yo pulak dikau ni. makasuik dikau apo?

mandi bungo menyambut bulan puaso. mandi ini senja kala, begitu matahari terbenam, hari mulai malam, terdengar burung hantu, suaranya merdu. hei!! ngapo pulak ngentamyo ni, menyanyi pulak dio. tesasol. sorry. sorry my friends.

pagi sebelum mandi bungo, para anak dara gotong-royong di surau. para pria sama, tiba-tiba sahaja di surau, kalau tak itu, hanya numpang tidur saja di ruang belakang surau. sebuah ruang tidur massal sebagai buruh barang smokel, dan jadi sebuah ruang hidang kala peringatan maulid nabi serta isra mi'raj. tatkala potong kambing, sukat takar hidangnya di ruang surau penuh kenangan itu. emak aku termasuk tukang sukat, sedangkan aku dan kawan tukang tidurnya. hahahahaha

tapi surau kecil ditengah pemukiman padat dengan aura kampong saat itu dengan keanekaragaman suku yang melahirkan budaya lingkungan hidup yang unik dan bersahaja dalam lenggang pembangunan kota ini. salah satu yang membentuk jiwa kami surau itu.
surau itu, telah benar menjalani fungsi sebagai rumah asuh jiwa, jiwa yang berada pada era yang sangat global. emak kami belajar dengan ustat haji yahya diacara perwiridan yang tidak mengedepankan baju seragam, bapak kami belajar tasauf sama haji yunus noor ditambah ilmu ustat haji sulaiman. dan kami diasuh tausyiah oleh ustat muda haji badrun dan terbina sebagai remaja surau muamallah oleh pak atan tukang. dan kami selalu yang jadi tukang tumpowwwww. hahahahaha.

walau diri ini tumbuh di daerah yang berbancuh global, tapi bila tiba bulan puasa, aku mengadu di surau itu dengan riang gembira bersama mereka-mereka. nah! bila surau sudah bersih, para anak dara yang aduhai menurut jiwa orang saling senang, para gadispun mulai pulang terus bertandang ke rumah orang yang punya bunga. diponjot bunga minta dalam plastik untuk dirampai di mangkok van, di rumah aku, emak ado buat lengkap dengan limau nipis belah. aku pun langsunglah mandi menghilangkan bau haghi yang auzubillahminzalik, ledahnyo. habis masang tajur di muara sungai buluh kasap, begitu air pasang kami pulang membawa ikan sembilang, tapi sampai dirumah tak laku di mato mak aku, sebab bapak menyembelih itik buat makan sahur sulung. ngggg. ngalah! sungot macam petei yang aku terimo, untuk menghilang doso karena selalu buat emak marah, air bunga pun kusimbah. itulah mandi bungo ku dulu. mandi bungo miko, macam mano pulak? hahahahmmmmmm.

Selajutnya menurut lelaki berdarah melayu ini tentang mandi kembang ialah sebagai berikut.

sekarang yang ke dua. 'mandi kembang'
kan sama ajo tu wesssss?
tidak!
tidak aponyo?
mandi kembang adalah suatu belantika musik dangdut yang di perkenalkan, kalau tak salah, caca handika. mandi kembang tengah malam, jangan kau lakukan. nah! pado mandi kembang inilah banyak bebudak bujang seghap. berjoget dengan mata terbelukang sambil bergoyang di perayaan nikah sianu anak sianu. ingat band ali. nggg ngalah. begitu mandi kembang ini melaghat sampai ke bundaran, maka kembanglah kehidupan kota ini dan tahun 1987 , mandi bungo pon hilang pelan-pelan di ruang pub, karaoke, kafe dan hotel-hotel. tinggal mandi kembang yang sesekali terdendangkan.

minal aidin wal faizin.
salam rindu kampong yang tak bisa dimudik tutup Darwis sang penggiat seni serta pengelola bandar bakau dan
ketua pecinta alam bahari club menutup sembari menghanturkan dua tangan memohon maaf.
Darwis Moh. Saleh (kiri) dan Ketua Puja Kesuma Zainal Abidin(kanan) pada momen acara penanaman Manggrove beberapa waktu lalu
Darwis Moh. Saleh (fhoto memakai topi putih) pada momen berbagi pada para pecinta alam 



editor : Arif

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.