MERANTI - Upaya menjadikan Sagu termasuk ke dalam komoditas Pangan Pokok Nasional dan dapat ditampung oleh Perum Bulog RI, Kepala Perum Bulog Wilayah Riau-Kepri Bachtiar gelar Rapat Koordinasi bersama Bupati Kepulauan Meranti, Organisasi Perangkat Daerah serta sejumlah pengusaha Sagu Meranti di Aula Biru Kantor Bupati Meranti. Rabu (22/7/2020)

Dalam pertemuan tersebut Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan M Si menyampaikan, bahwa Meranti merupakan daerah penghasil Sagu terbesar di dunia dimana sebanyak 50 persen Sagu yang dihasilkan dunia berasal dari Meranti. Dengan potensi yang dimiliki itu Meranti siap mendukung ketahanan pangan Indonesia dalam kondisi Pandemi Covid-19 saat ini.

Namun saat berkomunikasi dengan Kementrian Pertanian, timbul pertanyaan bagaimana mengantisipasi seandainya terjadi kelangkaan pangan beras di Indonesia yang disebabkan oleh pembatasan ekspor beras dari negara Vietnam dan Thailand, apa yg harus dilalukan guna menjaga stok pangan ditengah Pandemi Covid-19 dunia.

Kemudian Bupati Irwan yang juga Ketua Forum Komunikasi Kabupaten Penghasil Sagu Indonesia (FOKUS-KAPASSINDO) menegaskan bahwa, jika terjadi kelangkaan pangan di Indonesia sebenarnya titik permasalahan itu berada di Meranti melalui potensi Sagu yang sangat besar tersebut. 

"Sagu sudah diolah cukup maju dan menghasilkan beras Analog dan berbagai turunan lainnya seperti Mie, Gula, serta olahan Sagu yang menghasilkan ratusan makanan/minuman dan mengantarkan Kepulauan Meranti meraih rekor MURI," Ucap Irwan

Namun yang menjadi masalah saat ini berada di sektor pemasaran dan stabilitas harga Sagu itu sendiri. Selama ini produksi Sagu Meranti sebanyak 20 ribu Ton/bulan hanya dikirim ke Cirebon, dan dari Cirebonlah kemudian dipasarkan ke wilayah Jawa dan Mancanegara seperti Jepang, Malaysia, Singapura dan lainnya.


Bupati juga mengatakan pengiriman Sagu ke Cirebon dengan sistem titip bayar dinilai belum memberikan kepastian, pasalnya pemasaran kepada petani dan pengusaha Sagu di Meranti masih belum mengacu pada stabilitas harga Sagu itu sendiri.

"Jadi agar petani dan pengusaha Sagu di Indonesia khususnya di Kepulauan Meranti tetap bersemangat, perlu adanya campur tangan dari pusat melalui Bulog RI untuk dapat menampung hasil produksi Sagu tersebut sehingga tercipta kepastian pemasaran dan stabilitas harga Sagu dipasaran," Saran Irwan

Tentunya jika kebijakan itu dapat direalisasikan, tentunya akan menambah semangat para petani Sagu yang selama ini yang mengantungkan hidupnya pada Sagu melalui sistem ekonomi bebasis kerakyatan tersebut.

"Kita tentunya tidak ingin nasib Sagu sama dengan kelapa dan karet, yang mana harganya terlanjur diatur oleh kartel di Malaysia sehingga petani kurang sejahtera," Tutur Irwan

Seperti diketahui saat ini PT. Boga Sari mampu mengimpor 13 Juta Ton Tepung Terigu untuk dijual dan diolah menjadi berbagai produk seperti Mie Instant dan lainnya. Jadi jika Bulog dapat menfasilitasi 10 persen saja, maka subsitusi Tepung Terigu dengan Tepung Sagu akan membuka celah pasar Sagu di Indonesia yang mencapai 1.7 Juta Ton pertahun.

"Tentunya ini akan memberikan motivasi kepada petani Sagu di Indonesia untuk lebih giat mengolah Sagu," Ucap Bupati.

Lahan Sagu seluas 4 Juta Ha akan menjadi lumbung pangan Nasional ditengah semakin terbatasnya lahan sawah. Jadi jika potensi ini dikelola dengan maksimal dari hasil penelitian pakar pangan akan mampu menghidupi seluruh masyatakat Indonesia bahkan seluruh dunia.

"Kita sangat berharap kepada pemerintah pusat kiranya dapat memberikan penugasan kepada Perum Bulog untuk membeli Sagu terutama saat produksi Sagu melimpah dipasaran, Hal ini tentunya dapat membuat harga Sagu tetap stabil dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat," Jelas Irwan.

Pada kesempatan itu Bupati Irwan juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI yang telah mengeluarkan Keputusan Presiden baru mengenai pangan Nasional dengan memasukan Sagu didalamnya, yang dulunya Pangan Nasional adalah Pajale (Padi, Jagung, Kedelai), kini sudah menjadi Pajalegu (Padi, Jagung, Kedelai dan Sagu).

"Dalam forum ini kami berharap kepada Bulog, dapat menyerap produksi Sagu Meranti sekaligus dapat menentukan harga pasaran Sagu," Harapnya

Selanjutnya, Kepala Bulog Wilayah Riau-Kepri Bachtiar mengatakan, bahawa permintaan dukungan Perum Bulog untuk pemasaran Sagu seperti yang disampaikan Bupati dapat terwujud. 

"Kami juga berharap usulan Bupati dapat terealisasikan apalagi Bulog memiliki market yang cukup besar di 27 Wilayah di Indonesia dan puluhan cabang, tinggal lagi dukungan dari Pemerintah Pusat melalui Kementrian terkait," Jelas Bachtiar

Bachtiar juga mengatakan, bahwa Sagu harus diperlakukan layaknya pangan beras karena sama-sama dapat digunakan untuk mendukung ketahanan pangan Nasional.

"Jadi jika beras mendapat keistimewaan maka Sagu harus bisa disuport juga," Tegasnya

Selanjutnya pihak Bulog dikatakan Bachtiar akan melakukan Kolaborasi dengan Pemkab Meranti untuk membawa masalah ini ke level yang lebih tinggi.

"Kami melihat disini ada potensi besar yang harus didukung, dan kini tinggal perintah kepada Bulog saja untuk dapat menyerap Sagu yag ada di Meranti," Ucapnya lagi

kesempatan itu pihak Bulog berjanji akan mendukung pemasaran Sagu dengan cara menyerap produksi Sagu Indonesia khususnya Kepulauan Meranti agar tercipta kepastian pemasaran dan stabilitas harga pasaran Sagu, Karena menurut Bachtiar pada prinsipnya dari Segi pemasaran pangan Nasional Bulog tidak mesti harus mendapatkan untung, tapi juga dapat melakukan subsidi sebagai bentuk negara hadir untuk membantu masyarakat.

"Apa yang telah disampaikan Pak Bupati akan segera kami respon dan laporkan kepusat, saya menilai kita sudah melangkah cukup jauh dan tinggal lagi kebijakan untuk mengeksekusinya, dan jika ini berhasil maka Bisnis Sagu Nasional khususnya di Kepulauan Meranti akan semakin bersinar dimasa datang, sekaligus sebuah jaminan keberlangsungan bisnis Sagu di Indinesia," Pungkas       (DIL)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.