MERANTI - Sejak awal Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti fokus terhadap penuntasan Stunting yang ada diwilayahnya. Berbagai program digulirkan dalam pelaksanaan aksi Konvergensi menekan angka Stunting yang terintegrasi dengan seluruh OPD terkait, alhasil melalui upaya itu Pemkab Meranti berhasil menurunkan angka Stunting yang cukup signifikan di 12 Desa Locus dari 16 Locus yang ada. 


Keberhasilan Pemkab Meranti dalam menekan angka Stunting diwilayahnya ini mendapat apresiasi dari Tim Penilai Kinerja Pencegahan dan Penurunan Stunting 2020-2021 dari Bappedalitbang Provinsi Riau dengan mengukuhkan Pemkab Meranti menjadi Pemda terbaik dari 12 Kabupaten Kota di Riau dalam penuntasan Stunting yang diwujudkan dengan pemberian Penghargaan Pemenang I kepada Pemkab Meranti bahkan berhasil menyabet seluruh kategori penghargaan dari Pemprov Riau yang disampaikan melalui Zoom Meeting/Vidconf, yang diikuti oleh 12 Kabupaten Kota Se-Provinsi Riau. Rabu (14/10/2020).


Adapun penghargaan yang diraih sesuai pengumuman yang disampaikan Ketua Tim Penilai Herianto adalah , 



Pertama, peringkat I Daerah yang menerapkan Aksi Konvergensi Stunting 1-4 dengan poin 39.


Kedua, peringkat I Kabupaten Paling Inspiratif dalam Penuntasan Stunting dengan poin 37.9.


Ketiga, peringkat I Kabupaten Paling Replikatif dalam Penuntasan Stunting dengan poin 37.9


Keempat, peringkat II Kabupaten Paling Inovatif dalam Penuntasan Stunting.


Dari pengakuan pihak penilaian yang dilakukan oleh Tim Bappedalitbang Provinsi Riau bersifat Independen, sesuai dengan aksi nyata yang dilakukan oleh Kabupaten Kota Se-Provinsi Riau. Selain melihat langsung kelapangan untuk melihat aksi nyata yang dilakukan oleh Kabupaten Kota Tim ini juga menilai efektifitas program yang telah dijalankan Pemda Se-Kabupaten Kota dalam menekan angka Stunting.


Dari fakta dilapangan Tim Penilai sangat mengapresiasi Pemkab Meranti, meski berada didaerah perbatasan, dengan angka kemiskinan yang cukup tinggi dan keterbatasan anggaran daerah berhasil menekan angka Stunting diwilayahnya.


Berdasarkan penjelasan Bupati Kepulauan Meranti dalam acara Vidconf bersama Tim Penilaian Pencegahan Stunting Provinsi Riau yang juga diikuti oleh 12 Kabupaten/Kota lainnya. Tingginya angka kemiskinan di Meranti menjadi salah satu faktor utama penyebab terjadinya Stunting di Meranti namun dengan program jitu dan komitmen yang kuat dari Pemda Meranti angka Stunting dapat ditekan dan kedepan diharapkan Zero.


Bupati juga menjelaskan, Pemkab Meranti sangat fokus terhadap upaya pencegahan dan penurunan angka Stunting dan cara yang paling tepat adalah dengan melibatkan seluruh OPD terkait untuk bersama-sama menyelesakan masalah Stnting, karena masalah Stunting tak terlepas dari berbagai sektor mulai dari Infrastruktur aksesbilitas, fasilitas air bersih, pedidikan, kesehatan masyarakat dengan pemberian gizi seimbang kepada Balita, Pemberian Bantuan Sembako, pembinaan ekonomi dan pendapatan masyarakat disektor pertanian/perkebunan dan lainnya, pemberdayaan UMKM, serta sosialisasi melalui media sosial.


Untuk menggesa penuntasan Stunting didaerah Locus, nantinya lokasi prioritas pelaksanaan program strategis semua OPD dengan begitu penuntasan Stunting dapat dilakukan dengan cepat.


"Kuncinya mengintegrasikan semua OPD untuk membenahi sektor, jadi masalah Stunting ini harus diselesaikan secara keroyokan dan tidak bisa dikerucutkan disatu Sektor," ujar Bupati Irwan. 


Secara rinci angka keberhasilan Meranti dalam menekan angka Stunting di 12 Locus dari 16 Desa yang menjadi Locus Stunting sebagai berikut : 


Pertama, desa Tenggayun Raya Rangsang Pesisir Dari 17 Kasus menjadi 10 Kasus.


Kedua, desa Tj. Darul Takzim Tebing Tinggi Barat dari 20 Kasus menjadi 16 Kasus.


Ketiga, batang Malas Tebing Tinggi Barat dari 30 Kasus menjadi 11 Kasus.


Keempa, desa Tj. Kulim dari 35 Kasus menjadi 14 Kasus.


Kelima, desa Mantiasa Tebing Tinggi Barat dari 48 Kasus menjadi 22 Kasus.


Keenam, desa Tanjung Pranap dari 39 Kasus menjadi 21 Kasus.


Ketujuh, desa Beting Rangsang Pesisir dari 30 Kasus menjadi 9 Kasus.


Kedelapan, desa Alai dari 36 Kasus menjadi 23 Kasus.


Kesembilan, topang dari 51 Kasus menjadi 36 Kasus


Kesepuluh, desa Kuala Merbau dari 48 Kasus menjadi 32 Kasus.


Kesebelas, desa Gogok dari 30 Kasus menjadi 23 Kasus.


Terakhir, desa Selatpanjang Timur dari 93 Kasus menjadi 65 Kasus.    (Rls/DIL)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.